Dalam Lima Bulan, Tim Rescue Disdamkarmat Berau Atasi 29 Kebakaran dan 105 Operasi Penyelamatan
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Ancaman kebakaran di Kabupaten Berau masih membayangi masyarakat hingga pertengahan tahun 2026. Dalam kurun waktu lima bulan terakhir, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau mencatat sedikitnya 29 kasus kebakaran terjadi di berbagai wilayah, dengan mayoritas dipicu oleh korsleting listrik di kawasan permukiman warga.
Di tengah
meningkatnya kasus kebakaran, personel Damkar juga harus bekerja ekstra
menghadapi berbagai operasi penyelamatan non-kebakaran yang jumlahnya bahkan
menembus 105 penanganan hingga Mei 2026. Mulai dari evakuasi sarang tawon,
penangkapan ular berbisa, hingga penyelamatan buaya liar yang muncul di sekitar
permukiman, menjadi bagian dari tugas harian tim rescue Disdamkarmat Berau.
Menurut penjelasan
Kepala Disdamkarmat Berau, Rakhmadi Pasarakan, sepanjang Januari saja tercatat terjadi 11 kasus kebakaran. Angka tersebut sempat menurun pada
Februari dan Maret dengan masing-masing tiga kejadian. Namun kembali
meningkat pada April yang mencatat delapan kasus kebakaran, kemudian
disusul empat kejadian hingga pertengahan Mei.
“Hasil pendataan kami
Januari ada 11 kejadian. Februari dan Maret masing-masing 3 kasus, lalu
April naik menjadi 8 kejadian, dan Mei sampai hari ini sudah 4 kasus,” ungkapnya.
Jika diakumulasikan,
total 29 kasus kebakaran telah terjadi di Bumi Batiwakkal hanya dalam waktu
kurang dari setengah tahun. Berdasarkan pemetaan Disdamkarmat Berau, kawasan
perkotaan masih menjadi wilayah paling rentan terhadap kebakaran permukiman.
Titik rawan tersebar di sejumlah kecamatan padat penduduk seperti Tanjung
Redeb, Gunung Tabur, Teluk Bayur, dan Sambaliung.
Menurut Rakhmadi,
penyebab paling dominan dari kebakaran rumah warga masih berkaitan dengan
hubungan arus pendek atau korsleting listrik. Ia menilai rendahnya kesadaran
masyarakat terhadap keamanan instalasi listrik menjadi persoalan serius yang
hingga kini belum sepenuhnya dipahami warga.
Padahal, sesuai
standar keamanan, instalasi listrik rumah seharusnya diperiksa secara berkala
minimal empat tahun sekali untuk memastikan jaringan tetap aman digunakan.
Selain itu, penggunaan terminal listrik atau colokan secara berlebihan juga
menjadi salah satu pemicu utama kebakaran yang sering ditemukan di lapangan.
“Masih banyak
masyarakat yang kurang memperhatikan penggunaan listrik di rumah. Padahal itu
sangat berisiko memicu kebakaran,” jelasnya.
Disdamkarmat Berau
sendiri mengaku telah berupaya menggencarkan edukasi kepada masyarakat terkait
pencegahan kebakaran.
Namun, sosialisasi
tersebut belum dapat berjalan maksimal karena materi mitigasi yang harus
disampaikan cukup luas dan kompleks. Tak hanya soal listrik, petugas juga harus
memberikan pemahaman mengenai penggunaan kompor, penyimpanan bahan bakar
minyak, tabung gas elpiji, hingga langkah penanganan awal saat terjadi
kebakaran.
“Kami juga ada
sosialisasi. Cuma karena materinya banyak, bukan hanya soal listrik, ada
kompor, minyak, gas dan sebagainya,” katanya.
Di sisi lain,
aktivitas tim rescue Disdamkarmat Berau justru tercatat lebih padat dibanding
penanganan kebakaran.
Sepanjang Januari
hingga Mei 2026, sebanyak 105 operasi penyelamatan telah dilakukan di berbagai
wilayah. Rinciannya, 21 operasi dilakukan pada Januari, tujuh operasi di
Februari, 15 penanganan pada Maret, kemudian melonjak drastis menjadi 38
operasi di April, dan 24 operasi pada Mei yang hingga kini masih terus
bertambah.
“Untuk penyelamatan masih terus bergerak
sampai sekarang,” ujar Rakhmadi.
Operasi penyelamatan
tersebut didominasi penanganan satwa liar berbahaya yang masuk ke lingkungan
warga, termasuk ular berbisa dan buaya, serta gangguan sarang tawon yang kerap
mengancam keselamatan masyarakat.
Selain memetakan
kerawanan kebakaran permukiman, Disdamkarmat Berau juga menetapkan empat
kecamatan sebagai zona merah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Wilayah yang
masuk dalam pengawasan ketat tersebut yakni Segah, Tanjung Batu, Teluk Bayur,
dan Tabalar.
“Kalau zonasi
terbesar kebakaran permukiman memang ada di wilayah perkotaan. Sedangkan untuk
karhutla ada empat wilayah yang masuk zona merah,” pungkasnya. (sep/FN)